Posted by: isronax | January 29, 2008

Perang Dunia II

Perang Dunia II, post disini.

http://en.wikipedia.org/wiki/World_War_II

http://www.bbc.co.uk/history/worldwars/wwtwo/

http://www.spartacus.schoolnet.co.uk/2WW.htm

http://encarta.msn.com/encyclopedia_761569981/world_war_i.html

About these ads

Responses

  1. Perang Dunia II

    *Latar Belakang PD II:
    – Benito Mussolini di Italia mempelopori gerakan fasvio de combatimento,
    dengan cita-cita membentuk Italia Raya
    – Adolf Hitler, Jerman. Membentuk NAZI
    – Tenno Meiji, Jepang. Fasis Militer.

    *Jalannya perang:

    – 1937, Italia menduduki Abessynia dan Jerman menyerang Polandia, 1 Sept 1939.
    – Desember 1941, Jepang membom Pearl Harbour.
    – Prc, UK membantu Polandia menghadapi Jerman.
    – AS terlibat menghadapi aliansi Jerman, Italia, Jepang, setelah Pearl Harbour di bom

    *Akhir Perang:

    – Sekutu mendaratkan pasukan di PAntai Normandia, 6 Juni 1944
    – Jerman menyerah pada Sekutu, Mei 1955
    – Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh AS.
    – 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat pada Sekutu

    *Tanggal 17 Juli-2 Agustus 1945–>Konfrensi Postdam, utk mengakhiri perang:

    Isi:

    1. Jerman dibagi jadi Jerman Barat dan Jerman Timur
    2. Jerman harus membayar pampasan perang
    3. Angkatan perang Jerman dikurangi
    4. Partai NAZI dihapus
    5. Penjahat perang akan dihukum

    * 8 September 1951–>Perjanjian San Francisco

    Isi:

    1. Jepang diperintah oleh tentara pendudukan AS
    2. Jepang membayar pampasan perang
    3. Daerah yang dikuasai Jepang dikembalikan ke pemiliknya
    4. Penjahat perang akan dihukum

  2. Perang Dunia II, secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 14 Agustus 1945. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang ini adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini.

    Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 atau 15 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

    Perang Dunia II berkecamuk di tiga benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Berikut ialah data pertempuran-pertempuran dan peristiwa penting di setiap benua.
    Daftar isi
    [sembunyikan]

    * 1 Asia dan Pasifik
    o 1.1 1937: Perang Sino-Jepang
    o 1.2 1940: Jajahan Perancis Vichy
    o 1.3 1941: Pearl Harbor, A.S. turut serta dalam perang, invasi Jepang di Asia Tenggara
    o 1.4 1942: Invasi Hindia-Belanda
    o 1.5 1942: Laut Coral, Port Moresby, Midway, Guadalcanal
    o 1.6 1943–45: Serangan Sekutu di Asia dan Pasifik
    o 1.7 1945: Iwo Jima, Okinawa, bom atom, penyerahan Jepang
    * 2 Afrika dan Timur Tengah
    o 2.1 1940: Mesir dan Somaliland
    o 2.2 1941: Suriah, Lebanon, Korps Afrika merebut Tobruk
    o 2.3 1942: Pertempuran El Alamein Pertama dan Kedua
    o 2.4 1942: Operasi Obor (Operation Torch), Afrika Utara Perancis
    o 2.5 1943: Kalahnya Korps Afrika
    * 3 Eropa dan Rusia (Uni Soviet)
    o 3.1 1939: Invasi Polandia, Invasi Finlandia
    o 3.2 1940: Invasi Eropa Barat, Republik-republik Baltik, Yunani, Balkan
    o 3.3 1941: Invasi Uni Soviet
    o 3.4 1944: Serangan Balik
    o 3.5 1945: Runtuhnya Kerajaan Nazi Jerman
    * 4 Lihat pula
    * 5 Pranala luar

    [sunting] Asia dan Pasifik

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Pasifik

    [sunting] 1937: Perang Sino-Jepang

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perang Sino-Jepang (1937-1945)

    Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sesudah pertikaian di Eropa. Jepang telah menginvasi China pada tahun 1931, jauh sebelum Perang Dunia II dimulai di Eropa. Pada 1 Maret, Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi kaisar di Manchukuo, negara boneka bentukan Jepang di Manchuria. Pada 1937, perang telah dimulai ketika Jepang mengambil alih Manchuria.

    Roosevelt menandatangani sebuah perintah eksekutif yang tidak diterbitkan (rahasia) pada Mei 1940 mengijinkan personel militer AS untuk mundur dari tugas, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam operasi terselubung di China sebagai “American Volunteer Group” (AVG), juga dikenal sebagai Harimau Terbang Chennault. Selama periode tujuh bulan, kelompok Harimau Terbang berhasil menghancurkan sekitar 600 pesawat Jepang, menenggelamkan sejumlah kapal Jepang, dan menghentikan invasi Jepang terhadap Burma. Dengan adanya tindakan Amerika Serikat dan negara lainnya yang memotong ekspor ke Jepang, maka Jepang merencanakan serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 tanpa peringatan deklarasi perang; sehingga mengakibatkan kerusakan parah pada Armada Pasifik Amerika. Hari berikutnya, pasukan Jepang tiba di Hong Kong, yang kemudian menyebabkan menyerahnya pasukan Inggris pada Hari Natal di bulan itu.

    [sunting] 1940: Jajahan Perancis Vichy

    Pada 1940, Jepang menduduki Indochina Perancis (kini Vietnam) sesuai persetujuan dengan Pemerintahan Vichy meskipun secara lokal terdapat kekuatan Perancis Bebas (Free French), dan bergabung dengan kekuatan Poros Jerman dan Italia. Aksi ini menguatkan konflik Jepang dengan Amerika Serikat dan Britania Raya yang bereaksi dengan boikot minyak.

    [sunting] 1941: Pearl Harbor, A.S. turut serta dalam perang, invasi Jepang di Asia Tenggara

    !Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pemboman Pearl Harbor

    Serangan udara terhadap USS West Virginia dan USS Tennessee di Pearl Harbor.
    Serangan udara terhadap USS West Virginia dan USS Tennessee di Pearl Harbor.

    Pada 7 Desember 1941, pesawat Jepang dikomandoi oleh Laksamana Madya Chuichi Nagumo melaksanakan serangan udara kejutan terhadap Pearl Harbor, pangkalan angkatan laut AS terbesar di Pasifik. Pasukan Jepang menghadapi perlawanan kecil dan menghancurkan pelabuhan tersebut. AS dengan segera mengumumkan perang terhadap Jepang.

    Bersamaan dengan serangan terhadap Pearl Harbor, Jepang juga menyerang pangkalan udara AS di Filipina. Setelah serangan ini, Jepang menginvasi Filipina, dan juga koloni-koloni Inggris di Hong Kong, Malaya, Borneo dan Birma, dengan maksud selanjutnya menguasai ladang minyak Hindia Belanda. Seluruh wilayah ini dan daerah yang lebih luas lagi, jatuh ke tangan Jepang dalam waktu beberapa bulan saja. Markas Britania Raya di Singapura juga dikuasai, yang dianggap oleh Churchill sebagai salah satu kekalahan dalam sejarah yang paling memalukan bagi Britania.

    [sunting] 1942: Invasi Hindia-Belanda

    Penyerbuan ke Hindia Belanda diawali dengan serangan Jepang ke Labuan, Brunei, Singapura, Semenanjung Malaya, Palembang, Tarakan dan Balikpapan yang merupakan daerah-daerah sumber minyak. Jepang sengaja mengambil taktik tersebut sebagai taktik gurita yang bertujuan mengisolasi kekuatan Hindia Belanda dan Sekutunya yang tergabung dalam front ABDA (America (Amerika Serikat), British (Inggris), Dutch (Belanda), Australia) yang berkedudukan di Bandung. Serangan-serangan itu mengakibatkan kehancuran pada armada laut ABDA khususnya Australia dan Belanda.

    Sejak peristiwa ini, Sekutu akhirnya memindahkan basis pertahanannya ke Australia meskipun demikian Sekutu masih mempertahankan beberapa kekuatannya di Hindia Belanda agar tidak membuat Hindia Belanda merasa ditinggalkan dalam pertempuran ini.

    Jepang mengadakan serangan laut besar-besaran ke Pulau Jawa pada bulan Februari-Maret 1942 dimana terjadi Pertempuran Laut Jawa antara armada laut Jepang melawan armada gabungan yang dipimpin oleh Laksamana Karel Doorman. Armada Gabungan sekutu kalah dan Karel Doorman gugur.

    Jepang menyerbu Batavia (Jakarta) yang akhirnya dinyatakan sebagai kota terbuka, kemudian terus menembus Subang dan berhasil menembus garis pertahanan Lembang-Ciater, kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan Sekutu-Hindia Belanda terancam. Sementara di front Jawa Timur, tentara Jepang berhasil menyerang Surabaya sehingga kekuatan Belanda ditarik sampai garis pertahanan Porong.

    Terancamnya kota Bandung yang menjadi pusat pertahanan dan pengungsian membuat panglima Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten mengambil inisiatif mengadakan perdamaian. Kemudian diadakannya perundingan antara Tentara Jepang yang dipimpin oleh Jendral Hitoshi Imamura dengan pihak Belanda yang diwakili Letnan Jendral Ter Poorten dan Gubernur Jendral jhr A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Pada Awalnya Belanda bermaksud menyerahkan kota Bandung namun tidak mengadakan kapitulasi atau penyerahan kekuasaan Hindia Belanda kepada Pihak Jepang. Pada saat itu posisi Panglima tertinggi angkatan perang Hindia Belanda tidak lagi berada pada Gubernur Jendral namun diserahkan kepada Ter Poorten sehingga dilain waktu Belanda menganggap bahwa kedudukan di Hindia Belanda masih tetap sah dilanjutkan. Namun setelah Jepang mengancam akan mengebom kota Bandung akhirnya Jendral Ter Poorten setuju untuk menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

    [sunting] 1942: Laut Coral, Port Moresby, Midway, Guadalcanal

    Pada Mei 1942, serangan laut terhadap Port Moresby, Papua Nugini digagalkan oleh pasukan Sekutu dalam Perang Laut Coral. Kalau saja penguasaan Port Moresby berhasil, Angkatan Laut Jepang dapat juga menyerang Australia. Ini merupakan perlawanan pertama yang berhasil terhadap rencana Jepang dan pertarungan laut pertama yang hanya menggunakan kapal induk. Sebulan kemudian invasi Atol Midway dapat dicegah dengan terpecahnya pesan rahasia Jepang, menyebabkan pemimpin Angkatan Laut AS mengetahui target berikut Jepang yaitu Atol Midway. Pertempuran ini menyebabkan Jepang kehilangan empat kapal induk yang industri Jepang tidak dapat menggantikannya, sementara Angkatan Laut AS kehilangan satu kapal induk. Kemenangan besar buat AS ini menyebabkan Angkatan Laut Jepang kini dalam posisi bertahan.
    Pendaratan AS di Pasifik, Agustus 1942-Agustus 1945
    Pendaratan AS di Pasifik, Agustus 1942-Agustus 1945

    Namun, dalam bulan Juli penyerangan darat terhadap Port Moresby dijalankan melalui Track Kokoda yang kasar. Di sini pasukan Jepang bertemu dengan pasukan cadangan Australia, banyak dari mereka masih muda dan tak terlatih, menjalankan aksi perang dengan keras kepala menjaga garis belakang sampai tibanya pasukan reguler Australia dari aksi di Afrika Utara, Yunani dan Timur Tengah.

    Para pemimpin Sekutu telah setuju mengalahkan Nazi Jerman adalah prioritas utama masuknya Amerika ke dalam perang. Namun pasukan AS dan Australia mulai menyerang wilayah yang telah jatuh, mulai dari Pulau Guadalcanal, melawan tentara Jepang yang getir dan bertahan kukuh. Pada 7 Agustus 1942 pulau tersebut diserang oleh Amerika Serikat. Pada akhir Agustus dan awal September, selagi perang berkecamuk di Guadalcanal, sebuah serangan amfibi Jepang di timur New Guinea dihadapi oleh pasukan Australia dalam Teluk Milne, dan pasukan darat Jepang menderita kekalahan meyakinkan yang pertama. Di Guadalcanal, pertahanan Jepang runtuh pada Februari 1943.

    [sunting] 1943–45: Serangan Sekutu di Asia dan Pasifik

    Pasukan Australia and AS melancarkan kampanye yang panjang untuk merebut kembali bagian yang diduduki oleh Pasukan Jepang di Kepulauan Solomon, New Guinea dan Hindia Belanda, dan mengalami beberapa perlawanan paling sengit selama perang. Seluruh Kepulauan Solomon direbut kembali pada tahun 1943, New Britain dan New Ireland pada tahun 1944. Pada saat Filipina sedang direbut kembali pada akhir tahun 1944, Pertempuran Teluk Leyte berkecamuk, yang disebut sebagai perang laut terbesar sepanjang sejarah. Serangan besar terakhir di area Pasifik barat daya adalah kampanye Borneo pertengahan tahun 1945, yang ditujukan untuk mengucilkan sisa-sisa pasukan Jepang di Asia Tenggara, dan menyelamatkan tawanan perang Sekutu.

    Kapal selam dan pesawat-pesawat Sekutu juga menyerang kapal dagang Jepang, yang menyebabkan industri di Jepang kekurangan bahan baku. Bahan baku industri sendiri merupakan salah satu alasan Jepang memulai perang di Asia. Keadaan ini semakin efektif setelah Marinir AS merebut pulau-pulau yang lebih dekat ke kepulauan Jepang.

    Tentara Nasionalis China (Kuomintang) dibawah pimpinan Chiang Kai-shek dan Tentara Komunis China dibawah Mao Zedong, keduanya sama-sama menentang pendudukan Jepang terhadap China, tetapi tidak pernah benar-benar bersekutu untuk melawan Jepang. Konflik kedua kekuatan ini telah lama terjadi jauh sebelum Perang Dunia II dimulai, yang terus berlanjut, sampai batasan tertentu selama perang, walaupun lebih tidak kelihatan.

    Pasukan Jepang telah merebut sebagian dari Burma, memutuskan Jalan Burma yang digunakan oleh Sekutu untuk memasok Tentara Nasionalis China. Hal ini menyebabkan Sekutu harus menyusun suatu logistik udara berkelanjutan yang besar, yang lebih dikenal sebagai “flying the Hump”. Divisi-divisi China yang dipimpin dan dilatih oleh AS, satu divisi Inggris, dan beberapa ribu tentara AS, membersihkan Burma utara dari pasukan Jepang sehingga Jalan Ledo dapat dibangun untuk menggantikan Jalan Burma. Lebih ke selatan, induk dari tentara Jepang di kawasan perang ini berperang sampai terhenti di perbatasan Burma-India oleh Tentara ke-14 Inggris yang dikenal sebagai “Forgotten Army”, yang dipimpin oleh Mayor Jendral Wingate yang kemudian melancarkan serangan balik dan berhasil dengan taktik gerilyanya yang terkenal dan bahkan dijadikan acuan bagi Tentara dan Pejuang Indonesia pada tahun 1945-1949. Setelah merebut kembali seluruh Burma, serangan direncanakan ke semenanjung Malaya ketika perang berakhir.

    [sunting] 1945: Iwo Jima, Okinawa, bom atom, penyerahan Jepang
    Bom atom berjulukan Fat Man, menimbulkan cendawan asap di atas kota Nagasaki, Jepang.
    Bom atom berjulukan Fat Man, menimbulkan cendawan asap di atas kota Nagasaki, Jepang.

    Perebutan pulau-pulau seperti Iwo Jima dan Okinawa oleh pasukan AS menyebabkan Kepulauan Jepang berada dalam jangkauan serangan laut dan udara Sekutu. Diantara kota-kota lain, Tokyo dibom bakar oleh Sekutu, dimana dalam penyerangan awal sendiri ada 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota. Jumlah korban yang tinggi ini disebabkan oleh kondisi penduduk yang padat di sekitar sentra produksi dan konstruksi kayu serta kertas pada rumah penduduk yang banyak terdapat di masa itu. Tanggal 6 Agustus 1945, bomber B-29 “Enola Gay” yang dipiloti oleh Kolonel Paul Tibbets, Jr. melepaskan satu bom atom Little Boy di Hiroshima, yang secara efektif menghancurkan kota tersebut.

    Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang, seperti yang telah disetujui pada Konferensi Yalta, dan melancarkan serangan besar terhadap Manchuria yang diduduki Jepang (Operasi Badai Agustus). Tanggal 9 Agustus 1945, bomber B-29 “Bock’s Car” yang dipiloti oleh Mayor Charles Sweeney melepaskan satu bom atom Fat Man di Nagasaki.

    Kombinasi antara penggunaan bom atom dan keterlibatan baru Uni Soviet dalam perang merupakan faktor besar penyebab menyerahnya Jepang, walaupun sebenarnya Uni Soviet belum mengeluarkan deklarasi perang sampai tanggal 8 Agustus 1945, setelah bom atom pertama dilepaskan. Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945, menanda tangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945 diatas kapal USS Missouri di teluk Tokyo.

    [sunting] Afrika dan Timur Tengah

    [sunting] 1940: Mesir dan Somaliland

    Pertempuran di Afrika Utara bermula pada 1940, ketika sejumlah kecil pasukan Inggris di Mesir memukul balik serangan pasukan Italia dari Libya yang bertujuan untuk merebut Mesir terutama Terusan Suez yang vital. Tentara Inggris, India, dan Australia melancarkan serangan balik dengan sandi Operasi Kompas (Operation Compass), yang terhenti pada 1941 ketika sebagian besar pasukan Persemakmuran (Commonwealth) dipindahkan ke Yunani untuk mempertahankannya dari serangan Jerman. Tetapi pasukan Jerman yang belakangan dikenal sebagai Korps Afrika di bawah pimpinan Erwin Rommel mendarat di Libya, melanjutkan serangan terhadap Mesir.

    [sunting] 1941: Suriah, Lebanon, Korps Afrika merebut Tobruk

    Pada Juni 1941 Angkatan Darat Australia dan pasukan Sekutu menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17 Juni. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi. Pemberontakan didukung oleh Mufti Besar Yerusalem, Haji Amin al-Husseini. Oleh karena merasa garis belakangnya terancam, Inggris mendatangkan bala bantuan dari India dan menduduki Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara Rashid Ali dan Mufti Besar Yerusalem melarikan diri ke Iran. Namun kemudian Inggris dan Uni Soviet menduduki Iran serta menggulingkan shah Iran yang pro-Jerman. Kedua tokoh Arab yang pro-Nazi di atas kemudian melarikan diri ke Eropa melalui Turki, di mana mereka kemudian bekerja sama dengan Hitler untuk menyingkirkan orang Inggris dan orang Yahudi. Korps Afrika dibawah Rommel melangkah maju dengan cepat ke arah timur, merebut kota pelabuhan Tobruk. Pasukan Australia dan Inggris di kota tersebut berhasil bertahan hingga serangan Axis berhasil merebut kota tersebut dan memaksa Divisi Ke-8 (Eighth Army) mundur ke garis di El Alamein.

    [sunting] 1942: Pertempuran El Alamein Pertama dan Kedua
    Crusader tank Britania melewati Panzer IV Jerman yang terbakar di tengah gurun
    Crusader tank Britania melewati Panzer IV Jerman yang terbakar di tengah gurun

    Pertempuran El Alamein Pertama terjadi di antara 1 Juli dan 27 Juli 1942. Pasukan Jerman sudah maju ke yang titik pertahanan terakhir sebelum Alexandria dan Terusan Suez. Namun mereka telah kehabisan suplai, dan pertahanan Inggris dan Persemakmuran menghentikan arah mereka.

    Pertempuran El Alamein Kedua terjadi di antara 23 Oktober dan 3 November 1942 sesudah Bernard Montgomery menggantikan Claude Auchinleck sebagai komandan Eighth Army. Rommel, panglima cemerlang Korps Afrika Tentara Jerman, yang dikenal sebagai “Rubah Gurun”, absen pada pertempuran luar biasa ini, karena sedang berada dalam tahap penyembuhan dari sakit kuning di Eropa. Montgomery tahu Rommel absen. Pasukan Persemakmuran melancarkan serangan, dan meskipun mereka kehilangan lebih banyak tank daripada Jerman ketika memulai pertempuran, Montgomery memenangkan pertempuran ini.

    Sekutu mempunyai keuntungan dengan dekatnya mereka ke suplai mereka selama pertempuran. Lagipula, Rommel hanya mendapat sedikit atau bahkan tak ada pertolongan kali ini dari Luftwaffe, yang sekarang lebih ditugaskan dengan membela angkasa udara Eropa Barat dan melawan Uni Soviet daripada menyediakan bantuan di Afrika Utara untuk Rommel. Setelah kekalahan Jerman di El Alamein, Rommel membuat penarikan strategis yang cemerlang ke Tunisia. Banyak sejarawan berpendapat bahwa berhasilnya Rommel pada penarikan strategis Korps Afrika dari Mesir lebih mengesankan daripada kemenangannya yang lebih awal, termasuk Tobruk, karena dia berhasil membuat seluruh pasukannya kembali utuh, melawan keunggulan udara Sekutu dan pasukan Persemakmuran yang sekarang diperkuat oleh pasukan AS.
    Pasukan Sekutu mendarat, dalam serangan bernama sandi Operasi Obor.
    Pasukan Sekutu mendarat, dalam serangan bernama sandi Operasi Obor.

    [sunting] 1942: Operasi Obor (Operation Torch), Afrika Utara Perancis

    Untuk melengkapi kemenangan ini, pada 8 November 1942 dilancarkanlah Operasi Obor (Operation Torch) dibawah pimpinan Jendral Dwight Eisenhower. Tujuan utama operasi ini adalah merebut kontrol terhadap Maroko dan Aljazair melalui pendaratan simultan di Casablanca, Oran, dan Aljazair, yang dilanjutkan beberapa hari kemudian dengan pendaratan di Bône, gerbang menuju Tunisia.

    Pasukan lokal di bawah Perancis Vichy sempat melakukan perlawanan terbatas, sebelum akhirnya bersedia bernegosiasi dan mengakhiri perlawanan mereka.

    [sunting] 1943: Kalahnya Korps Afrika

    Korps Afrika tidak mendapat suplai secara memadai akibat dari hilangnya pengapalan suplai oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara Sekutu, terutama Inggris, di Laut Tengah. Kekurangan persediaan ini dan tak adanya dukungan udara, memusnahkan kesempatan untuk melancarkan serangan besar bagi Jerman di Afrika. Pasukan Jerman dan Italia terjepit diantara pergerakan maju pasukan Sekutu di Aljazair dan Libia. Pasukan Jerman yang sedang mundur terus melakukan perlawanan sengit, dan Rommel mengalahkan pasukan AS pada Pertempuran Kasserine Pass sebelum menyelesaikan pergerakan mundur strategisnya menuju garis suplai Jerman. Dengan pasti, bergerak maju baik dari arah timur dan barat, pasukan Sekutu akhirnya mengalahkan Korps Afrika Jerman pada 13 Mei 1943 dan menawan 250.000 tentara Axis.

    Setelah jatuh ke tangan Sekutu, Afrika Utara dijadikan batu loncatan untuk menyerang Sisilia pada 10 Juli 1943. Setelah merebut Sisilia, pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Italia pada 3 September 1943. Italia menyerah pada 8 September 1943, tetapi pasukan Jerman terus bertahan melakukan perlawanan. Roma akhirnya dapat direbut pada 5 Juni 1944.

    [sunting] Eropa dan Rusia (Uni Soviet)

    [sunting] 1939: Invasi Polandia, Invasi Finlandia
    Salah satu foto bewarna Perang Dunia II yang selamat dari 40 juta foto hitam putih lainnya. Tampak di tengah-tengah Adolf Hitler.
    Salah satu foto bewarna Perang Dunia II yang selamat dari 40 juta foto hitam putih lainnya. Tampak di tengah-tengah Adolf Hitler.

    Perang Dunia II mulai berkecamuk di Eropa dengan dimulainya serangan ke Polandia pada 1 September 1939 yang dilakukan oleh Hitler dengan gerak cepat yang dikenal dengan taktik Blitzkrieg, dengan memanfaatkan musim panas yang menyebabkan perbatasan sungai dan rawa-rawa di wilayah Polandia kering yang memudahkan gerak laju pasukan lapis baja Jerman serta mengerahkan ratusan pembom tukik yang terkenal Ju-87 Stuka. Polandia yang sebelumnya pernah menahan Uni Soviet di tahun 1920-an saat itu tidak memiliki kekuatan militer yang berarti. Kekurangan pasukan lapis baja, kekurang siapan pasukan garis belakang dan koordinasinya dan lemahnya Angkatan Udara Polandia menyebabkan Polandia sukar memberi perlawanan meskipun masih memiliki 100 pesawat tempur namun jumlah itu tidak berarti melawan Angkatan Udara Jerman “Luftwaffe”. Perancis dan kerajaan Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 3 September sebagai komitment mereka terhadap Polandia pada pakta pertahanan Maret 1939.

    Setelah mengalami kehancuran disana sini oleh pasukan Nazi, tiba tiba Polandia dikejutkan oleh serangan Uni Soviet pada 17 September dari timur yang akhirnya bertemu dengan Pasukan Jerman dan mengadakan garis demarkasi sesuai persetujuan antara Menteri Luar Negeri keduanya, Ribentrop-Molotov. Akhirnya Polandia menyerah kepada Nazi Jerman setelah kota Warsawa dihancurkan, sementara sisa sisa pemimpin Polandia melarikan diri diantaranya ke Rumania. Sementara yang lain ditahan baik oleh Uni Soviet maupun Nazi. Tentara Polandia terakhir dikalahkan pada 6 Oktober.

    Jatuhnya Polandia dan terlambatnya pasukan sekutu yang saat itu dimotori oleh Inggris dan Perancis yang saat itu dibawah komando Jenderal Gamelin dari Perancis membuat Sekutu akhirnya menyatakan perang terhadap Jerman. Namun juga menyebabkan jatuhnya kabinet Neville Chamberlain di Inggris yang digantikan oleh Winston Churchill. Ketika Hitler menyatakan perang terhadap Uni Soviet, Uni Soviet akhirnya membebaskan tawanan perang Polandia dan mempersenjatainya untuk melawan Jerman. Invasi ke Polandia ini juga mengawali praktek-praktek kejam Pasukan SS dibawah Heinrich Himmler terhadap orang orang Yahudi.

    Perang Musim Dingin dimulai dengan invasi Finlandia oleh Uni Soviet, 30 November 1939. Pada awalnya Finlandia mampu menahan pasukan Uni Soviet meskipun pasukan Soviet memiliki jumlah besar serta dukungan dari armada udara dan lapis baja, karena Soviet banyak kehilangan jendral-jendral yang cakap akibat pembersihan yang dilakukan oleh Stalin pada saat memegang tampuk kekuasaan menggantikan Lenin. Finlandia memberikan perlawanan yang gigih yang dipimpin oleh Baron Carl Gustav von Mannerheim serta rakyat Finlandia yang tidak ingin dijajah. Bantuan senjata mengalir dari negara Barat terutama dari tetangganya Swedia yang memilih netral dalam peperangan itu. Pasukan Finlandia memanfaatkan musim dingin yang beku namun dapat bergerak lincah meskipun kekuatannya sedikit (kurang lebih 300.000 pasukan). Akhirnya Soviet mengerahkan serangan besar besaran dengan 3.000.000 tentara menyerbu Finlandia dan berhasil merebut kota-kota dan beberapa wilayah Finlandia. Sehingga memaksa Carl Gustav untuk mengadakan perjanjian perdamaian.

    Ketika Hitler menyerang Rusia (Uni Soviet), Hitler juga memanfaatkan pejuang-pejuang Finlandia untuk melakukan serangan ke kota St. Petersburg.

    [sunting] 1940: Invasi Eropa Barat, Republik-republik Baltik, Yunani, Balkan
    Perang Dunia II di Eropa. Merah adalah Sekutu atau penguasaannya, Biru adalah Axis atau penguasaannya, dan Hijau adalah Uni Soviet sebelum bergabung dengan Sekutu tahun 1941.
    Perang Dunia II di Eropa. Merah adalah Sekutu atau penguasaannya, Biru adalah Axis atau penguasaannya, dan Hijau adalah Uni Soviet sebelum bergabung dengan Sekutu tahun 1941.
    Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler.
    Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler.

    Dengan tiba-tiba Jerman menyerang Denmark dan Norwegia pada 9 April 1940 melalui Operasi Weserübung, yang terlihat untuk mencegah serangan Sekutu melalui wilayah tersebut. Pasukan Inggris, Perancis, dan Polandia mendarat di Namsos, Andalsnes, dan Narvik untuk membantu Norwegia. Pada awal Juni, semua tentara Sekutu dievakuasi dan Norwegia-pun menyerah.

    Operasi Fall Gelb, invasi Benelux dan Perancis, dilakukan oleh Jerman pada 10 Mei 1940, mengakhiri apa yang disebut dengan “Perang Pura-Pura” (Phony War) dan memulai Pertempuran Perancis. Pada tahap awal invasi, tentara Jerman menyerang Belgia, Belanda, dan Luxemburg untuk menghindari Garis Maginot dan berhasil memecah pasukan Sekutu dengan melaju sampai ke Selat Inggris. Negara-negara Benelux dengan cepat jatuh ke tangan Jerman, yang kemudian melanjutkan tahap berikutnya dengan menyerang Perancis. Pasukan Ekspedisi Inggris (British Expeditionary Force) yang terperangkap di utara kemudian dievakuasi melalui Dunkirk dengan Operasi Dinamo. Tentara Jerman tidak terbendung, melaju melewati Garis Maginot sampai ke arah pantai Atlantik, menyebabkan Perancis mendeklarasikan gencatan senjata pada 22 Juni dan terbentuklah pemerintahan boneka Vichy.

    Pada Juni 1940, Uni Soviet memasuki Latvia, Lituania, dan Estonia serta menganeksasi Bessarabia dan Bukovina Utara dari Rumania.

    Jerman bersiap untuk melancarkan serangan ke Inggris dan dimulailah apa yang disebut dengan Pertempuran Inggris atau Battle of Britain, perang udara antara AU Jerman Luftwaffe melawan AU Inggris Royal Air Force pada tahun 1940 memperebutkan kontrol atas angkasa Inggris. Jerman berhasil dikalahkan dan membatalkan Operasi Singa Laut atau Seelowe untuk menginvasi daratan Inggris. Hal itu dikarenakan perubahan strategi Luftwaffe dari menyerang landasan udara dan industri perang berubah menjadi serangan besar-besaran pesawat pembom ke London. Sebelumnya terjadi pemboman kota Berlin yang ddasarkan pembalasan atas ketidaksengajaan pesawat pembom Jerman yang menyerang London. Alhasil pilot peswat tempur Spitfire dan Huricane dapt berisirahat. Perang juga berkecamuk di laut, pada Pertempuran Atlantik kapal-kapal selam Jerman (U-Boat) berusaha untuk menenggelamkan kapal dagang yang membawa suplai kebutuhan ke Inggris dari Amerika Serikat.

    Pada 27 September 1940, ditanda tanganilah pakta tripartit oleh Jerman, Italia, dan Jepang yang secara formal membentuk persekutuan dengan nama (Kekuatan Poros).

    Italia menyerbu Yunani pada 28 Oktober 1940 melalui Albania, tetapi dapat ditahan oleh pasukan Yunani yang bahkan menyerang balik ke Albania. Hitler kemudian mengirim tentara untuk membantu Mussolini berperang melawan Yunani. Pertempuran juga meluas hingga wilayah yang dikenal sebagai wilayah bekas Yugoslavia. Pasukan NAZI mendapat dukungan dari sebagian Kroasia dan Bosnia, yang merupakan konflik laten di daerah itu sepeninggal Kerajaan Ottoman. Namun Pasukan Nazi mendapat perlawanan hebat dari kaum Nasionalis yang didominasi oleh Serbia dan beberapa etnis lainnya yang dipimpin oleh Josip Broz Tito. Pertempuran dengan kaum Nazi merupakan salah satu bibit pertempuran antar etnis di wilayah bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.

    [sunting] 1941: Invasi Uni Soviet

    * Operasi Barbarossa, invasi Uni Soviet dilakukan oleh Jerman
    * Pertempuran Stalingrad

    [sunting] 1944: Serangan Balik

    * Invasi Normandia (D-Day), invasi di Perancis oleh pasukan Amerika Serikat dan Inggris, 1944

    [sunting] 1945: Runtuhnya Kerajaan Nazi Jerman

    Pada akhir bulan april 1945, ibukota Jerman yaitu Berlin sudah dikepung oleh Uni Soviet dan pada tanggal 1 Mei 1945, Adolf Hitler bunuh diri bersama dengan istrinya Eva Braun didalam bunkernya, sehari sebelumnya Adolf Hitler menikahi Eva Braun, dan setelah mati memerintah pengawalnya untuk membakar mayatnya. Setelah menyalami setiap anggotanya yang masih setia. Pada tanggal 2 Mei, Karl Dönitz diangkat menjadi pemimpin menggantikan Adolf Hitler dan menyatakan Berlin menyerah pada tanggal itu juga. Disusul Pasukan Jerman di Italia yang menyerah pada tanggal 2 juga. Pasukan Jerman di wilayah Jerman Utara, Denmark dan Belanda menyerah tanggal 4. Sisa pasukan Jerman dibawah pimpinan Alfred Jodl menyerah tanggal 7 mei di Rheims, Perancis. Tanggal 8 Mei, penduduk di negara-negara sekutu merayakan hari kemenangan, tetapi Uni Soviet merayakan hari kemenangan pada tanggal 9 Mei dengan tujuan politik.

    Lihat juga : Operasi Bagration

  3. Perang Dunia II, secara resmi mulai berkecamuk pada tanggal 1 September 1939 sampai tanggal 14 Agustus 1945. Meskipun demikian ada yang berpendapat bahwa perang sebenarnya sudah dimulai lebih awal, yaitu pada tanggal 1 Maret 1937 ketika Jepang menduduki Manchuria. Sampai saat ini, perang ini adalah perang yang paling dahsyat pernah terjadi di muka bumi. Kurang lebih 50.000.000 (lima puluh juta) orang tewas dalam konflik ini.

    Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai pada saat pendudukan Jerman di Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 atau 15 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat.

    Perang Dunia II berkecamuk di tiga benua tua; yaitu Afrika, Asia dan Eropa. Berikut ialah data pertempuran-pertempuran dan peristiwa penting di setiap benua.

    ———————————-
    English Version..

    -_- 1940 -_-
    May 10 Germany invades the Netherlands.

    May 15 The Netherlands surrenders to Germany; Dutch government flees to London. Netherlands Indies government declares a state of siege, and places the Indies on a wartime footing. German citizens in the Netherlands Indies are placed in internment camps.

    June Young Suharto enters the KNIL military school at Gombang.

    June 28 Japan says that it wants to renegotiate trade agreements with the Netherlands.

    July Indonesian exports to Japan are stopped.

    August Japan suggests that French Indochina and the Netherlands Indies should be incorporated willingly into the “East Asia Co-Prosperity Sphere”.

    August 9 GAPI presents another petition for the “complete democratization of Indonesia”.

    August 23 Commission for the Study of Constitutional Reforms is set up to look into the GAPI demands (but nothing else). Thamrin and others in the Volksraad withdraw their proposals for democratization, saying that the situation was becoming hopeless.

    September Japanese troops move into French Indochina.

    September 12 Netherlands Indies government begins trade talks with a Japanese delegation under Kobayashi. Van Mook does not cooperate with Japanese demands for aviation fuel.

    October 26 Japan and the Netherlands issue a joint declaration that the Indies will not be part of the “Co-Prosperity Sphere”.

    November 12 Quota on oil sales to Japan from the Indies is set by agreement.

    December Kobayashi returns to Japan.
    Help the People of Aceh
    Palang Merah Indonesia

    Even after the Netherlands had been taken over by Nazi Germany, the Dutch still held onto their colonies. For over a year and a half, the Netherlands East Indies government continued to rule over Indonesia, reporting to the Dutch government-in-exile. Efforts by Indonesian activists to organize self-rule were ignored.

    Some Japanese extremists had talked about building an empire in the Pacific in the early 1930s, or even earlier. In 1940, however, Japan still faced a possible military threat from the Soviet Union, and the Japanese military was unwilling to overextend their forces too far to the south.

    -_- 1941 -_-

    January 6 Dutch arrest Thamrin, Douwes Dekker and other nationalists. Thamrin dies in custody five days later. Douwes Dekker is exiled to Surinam.

    January 11 New, more agressive Japanese negotiating team under Yoshizawa arrives in Batavia.

    February Increasing Japanese pressure on the Netherlands Indies government to “join the East Asia Co-Prosperity Sphere” is rebuffed by Van Mook.

    May 14 Japanese send an ultimatum to the Netherlands Indies government, demanding Japanese influence and presence in the region.

    June 6 Talks between Dutch and Japanese collapse. Netherlands Indies government replies that no concessions to Japan will be made, and that all strategic products (including oil and rubber) have been contracted for shipment to Britain and the United States.

    July 11 Volksraad organizes an Indonesian militia.

    July 25 Japan announces a “protectorate” over Indochina.

    July 26 Japanese assets in the Netherlands Indies are frozen.

    July 30 Dutch government-in-exile promises to hold conference on Indonesia after the war.

    November 30 Dutch naval forces in the Indies begin mobilizing.

    December 5 Netherlands Indies government sends a request to Australia to send forces to Ambon and Timor. Australian Air Force planes and personnel arrive on December 7.

    December 8 Japanese invade Malaya, landing in southernmost Thailand and northern Malaya. Japanese begin attacking the Philippines. Netherlands, among other nations, declares war on Japan.

    December 10 British battleships Prince of Wales and Repulse are sunk within hours of each other off Malaya.

    December 16 Anti-Dutch Acehnese make contact with Japanese forces in Malaya.

    December 17 Australian-led force lands in East Timor. Portuguese dictator Salazar protests.

    December 17 Japanese air raid on Ternate.

    Japanese land in Sarawak.

    December 22 Main Japanese invasion force lands in the Philippines.

    Hatta writes a newspaper article calling on Indonesians to oppose the Japanese.

    December 24 Japanese attack British forces at Kuching, Sarawak.

    In August 1941, the Atlantic Charter was signed by the USA, Britain, and the governments-in-exile of many of the occupied nations of Europe, including the Netherlands. The Charter called for the “right of all peoples to choose the form of government under which they will live”, among other things. In September of the same year, Dutch diplomats clarified that they did not think this applied to Indonesia.

    In 1941, the British and Americans as well as the Dutch began to tighten restrictions on business with Japan, including embargoes on supplies that could be used to wage war. In response, Japan announced that it would try to organize the “Greater East Asian Co-Prosperity Sphere”, a bloc that would supply raw materials to Japan and receive exports in return. The original idea stretched the bloc as far as India and New Zealand. The bloc would be controlled by the Japanese military. Japanese propaganda also advanced the idea that Asian colonies of European powers should be free from Western control–but this implied that control of those colonies would fall to Japan by military force.

    Oil fields at Tarakan: Indonesia’s strategic natural resources made it a valuable prize during the Second World War. Oil fields and refineries were important to the Japanese war effort, and were frequent targets of Allied bombing raids.

    The circumstances of Thamrin’s death are not clear, except that he definitely died while in Dutch custody. The Netherlands Indies government suspected Thamrin and the others arrested in January 1941 of secretly collaborating with the Japanese.
    January 1942

    January 2 Japanese take city of Manila.

    January 3 Japanese take Sabah.

    January 6 Japanese take Brunei.

    January 6 First Japanese air raid on Ambon.

    January 10 Japanese begin invasion of Indonesia in Kalimantan (Tarakan) and Sulawesi (Manado).

    January 11 Japanese take Tarakan.

    January 12 Van Mook makes an emergency trip to the United States, asking for reinforcements, and that the Netherlands Indies not be forgotten in the Allied defenses.

    January 13 Japanese take Manado.

    January 15 British Gen. Wavell takes command of ABDACOM, the first Allied joint command (Australian, British, Dutch, American) in the war.

    January 16 Acehnese agents return from Malaya with promises of Japanese support against the Dutch.

    January 23 Japanese take Balikpapan in spite of a strong Dutch and U.S. attack.

    January 25 Japanese take Kendari on Sulawesi.

    January 30 Japanese attack Ambon. KNIL and Australian forces destroy supplies to prevent them from falling into Japanese hands. Ambon city is taken within 24 hours. Fighting continues through February 2. Australian defenders suffer 90 percent casualties; many are massacred in February after being taken prisoner.

    British troops evacuate Malaya for Singapore.

    The Netherlands Indies government had few resources of its own. With the Netherlands under control and the home government in exile in London, defense of the area fell mostly to the British and Americans. When the British lost Malaya and Singapore, and the Americans lost the Philippines, the defense of the Netherlands Indies became hopeless.
    February 1942

    February 1 Japanese take Pontianak.

    February 3 Japanese bomb Surabaya, beginning air raids on targets on Java.

    February 4 Battle of Makassar Strait (naval battle between Kalimantan and Sulawesi): Japanese air and sea power forces Allies to withdraw to Cilacap. Japanese advance into Sulawesi.

    February 6 Japanese begin bombing Palembang.

    February 8 Japanese begin main assault on Singapore.

    February 9 Japanese bomb Batavia, Surabaya and Malang.

    February 10 Japanese take Ujung Pandang (Makassar).

    February 14 Japanese land paratroopers at Palembang, taking the city and its valuable oil industry.

    February 15 Singapore falls; 130,000 troops under British command are taken as prisoners of war.

    February 18 Van Mook, in Australia, pleads for Allied forces to make an offensive.

    February 19 Battle of Badung Strait (naval battle between Bali and Lombok): small Japanese force drives back Dutch and Australians. Japanese land on Bali. First Japanese air raid on Darwin, Australia.

    February 20 Japanese land on Timor.

    February 23 Revolt against Dutch begins in Aceh and North Sumatra, with Japanese support.

    Dutch transfer Sukarno to Padang; Sukarno slips away in chaos as Dutch evacuate.

    Dutch evacuate Sjahrir and Hatta from Banda by air minutes before the Japanese begin bombing the island.

    Japanese claim fall of Timor; Australian forces continue guerilla warfare.

    February 27 to March 1 Battle of Java Sea: Japanese destroy much of the Dutch and Australian naval forces near Surabaya. American destroyers escape to Australia. Dutch Admiral Doorman is killed.

    Hubertus Van Mook
    Van Mook was to be the last Dutch head of government for the Netherlands Indies. In the 1930s, he was an official with liberal, reformist views. In the early 1940s, he was a tireless advocate for the Netherlands Indies, frustrating Japan in negotiations while quietly pleading with Britain and the USA for defense supplies. After the war, he would in turn both battle against and negotiate with the new Republic of Indonesia, until he resigned in October 1948.

    Admiral Doorman
    Adm. Doorman went down with his ship in the Battle of the Java Sea.
    March 1942

    March 1 Battle of Sunda Strait: Japanese invasion force lands at Banten.

    Japanese invasion force lands west of Surabaya.

    Japanese air raid on Medan.

    March 5 Japanese air strikes at Cilacap. Japanese enter Batavia.

    March 7 Japanese take Cilacap.

    March 7 Rangoon falls to Japanese.

    March 8 Dutch under Starkenborgh in Java surrender outside Bandung. Van Mook escapes in a plane to Australia at the last moment.

    Japanese take Surabaya.

    March 11 Acehnese resistance engages in battles with retreating Dutch.

    March 12 Japanese land at Sabang. Operations in Aceh are finished around March 15.

    March 12 Japanese arrive at Medan.

    March 18 Japanese take Padang.

    March 28 Last Dutch force on Sumatra surrenders at Kutatjane, in the south of Aceh.

    Japanese ban all political activities and existing organizations. Volksraad is abolished. A ban is placed on merah-putih flags.

    Japanese 16th Army is in charge of Java; 25th Army in Sumatra (headquarters at Bukittinggi); Navy controls eastern Indonesia (headquarters at Ujung Pandang).

    In March 1942, the Allied forces on Java were told by scouts that a Japanese force of 250,000 was marching on Bandung, when in fact the force was only one-tenth that size. This wrong information may have been a part of the Allied surrender on Java.

    The Dutch actually transferred Communists being held in prison camps in the Netherlands Indies, some of them since 1926, to prison camps in Australia when the Japanese arrived.
    April 1942

    April 7 Three Netherlands Indies Radio employees are executed for playing the Dutch national anthem over the radio on March 18, after the capitulation.

    April 7 Japanese take Ternate.

    Japanese try to organize “AAA” movement; start propaganda campaigns.

    ABDACOM is dissolved. British and Americans divide responsibilities of war: British will try to retake Malaya and Sumatra as well as Burma. Rest of the Pacific and Indonesia becomes the responsibility of the U.S. (working with Australia).

    April 19 Japanese take Hollandia (now Jayapura).

    Gen. Imamura of the Japanese 16th Army, head of the occupation of Java in 1942.

    In April 1942, about 200 Allied soldiers who had escaped into the hills of East Java to continue fighting were rounded up by the Japanese under Imamura’s command. They were packed into bamboo livestock cages, transported in open rail cars to Surabaya, then taken to sea and thrown overboard to sharks, while still in the bamboo cages. Imamura was found guilty of this atrocity by an Australian military court after the war.
    May 1942

    May 9 Japanese occupy Lombok.

    May 13 Japanese occupy Sumbawa.

    May 14 Japanese land on Flores, completing occupation by May 17.

    May 16 Japanese occupy Sumba.

    June 1942

    June 17 Netherlands government-in-exile in London sets up consultative board for the affairs of the Netherlands Indies.

    July 1942

    Remaining KNIL forces send detachments to Kai, Aru and Tanimbar islands.

    Japanese assemble Sukarno, Hatta, and Sjahrir in Jakarta.

    Sukarno, Hatta, Sjahrir meet privately: Sukarno to rally masses for independence, Hatta to handle diplomatic connections, Sjahrir to coordinate underground activities.

    Sukarno accepts Japanese offer to be head of Indonesian government, but answerable to Japanese military.

    July 30 Japanese occupy the Kai and Aru Islands, after some resistance on Kai.

    July 31 Japanese take the Tanimbar Islands after some resistance by KNIL and Australian detachments at Saumlaki.

    Propaganda billboard celebrating the victories of Japanese troops, including Pearl Harbor in the upper right inset, Jakarta, 1942.

    Outwardly cooperating with the Japanese was the only option Sukarno and Hatta really had. The ultimate goal, of course, was not to support Japan, but to win independence for Indonesia. Later, the returning Dutch would try to accuse Sukarno of being a Japanese collaborator in order to get British support against the new Indonesian republic.

    Sjahrir, for his part, directed underground activities from his sister’s house at Cipanas, near Bogor. Information was frequently and quietly shared between Sukarno, who could get information from Japanese inner circles, and Sjahrir.
    August 1942

    August 29 Japanese begin transferring some forces from Sumatra and Java to the Solomon Islands.

    September 1942

    Indonesian Muslims refuse to bow towards Japanese Emperor in Tokyo.

    October 1942

    Japanese military advances in the Pacific stop; Japanese commanders told to organize pro-Japanese sentiments in occupied areas.

    October 16 Japanese 16th Army sends garrisons to Lombok, Sumba and Timor.

    “Work to Achieve Greater East Asia”: Japanese propaganda poster.

    At the beginning, Japanese propaganda sounded like an improvement over Dutch rule. After the Japanese troops began stealing food and taking men for forced labor, the opinion of Indonesians turned against them.

    Against Indonesians, the Japanese military was mostly guilty of three things:

    forced labor, in which many Indonesian men were taken from their homes and sent as far as Burma to do construction and other hard labor in terrible conditions. Many thousands died or disappeared.

    forced requisitioning, in which Japanese soldiers took food, clothing, and other supplies from Indonesian families by force and without compensation. This led to much hunger and suffering during the war.

    forced slavery of women, in which Indonesian women were kept as “comfort women” for the amusement of Japanese soldiers.

    In addition, the Japanese kept Dutch civilians in internment camps under poor conditions, and treated military prisoners of war in Indonesia badly.

    War crimes in Indonesia–serious as they were–were not nearly as serious as those committed in China or Korea during the same period, however. Some commanders, such as Gen. Imamura in Java, were publicly criticized in Tokyo newspapers for being too “soft”. There were even Japanese officers who were sympathetic to the idea of Indonesian independence, and who went out of their way to support Indonesian political figures and organizations, right up to Sukarno himself.
    November 1942

    Revolt in Aceh is put down by the Japanese.

    Gen. Imamura is replaced on Java by Gen. Harada. (Imamura is reassigned to Rabaul.)

    December 1942

    December 7 Queen Wilhelmina of the Netherlands, in exile, gives a speech promising a reformed relationship with the colonies after the war.

    December 27 Japanese open first internment camp for Dutch women at Ambarawa.

    Sukarno poses with a “romusha” work gang.
    January 1943

    Japanese arrest Amir Sjarifuddin, break up his resistance movement. Sjarifuddin is sentenced to death, but Sukarno intervenes on his behalf.

    Australian guerillas evacuate East Timor.
    The case of Amir Sjarifuddin is an unusual one. He was a Communist, yet received funds from the Dutch government-in-exile to support his resistance movement against the Japanese.
    February 1943

    February 9 Japanese send extra troops to Tanimbar and Kai Islands, and Irian Jaya.

    February 10 Last Australian guerillas are evacuated from East Timor, after a year of resistance in the bush.

    March 1943

    March 9 Japanese organize Putera (Pusat Tenaga Rakyat, a political auxiliary organization). Sukarno is named chairman. Hatta and Ki Hadjar Dewantoro are members.

    Japanese begin to organize local military auxiliaries (“Heiho”), attached to regular Japanese units.

    Indonesian “heiho” soldiers train with wooden staffs instead of weapons, 1943. Heiho soldiers from Indonesia were a combination of volunteers and forced conscripts. The Japanese military did not treat them with the same respect as Japanese soldiers.
    July 1943

    Japanese arrest 1000 in South Kalimantan.

    July 7 Japanese Prime Minister Tojo promises Indonesians limited self-government in a speech at Gambir, Jakarta.

    August 1943

    August 13 US bombers from Australia hit Balikpapan.

    Japanese begin to take over sugar estates in favor of Japanese sugar producers; European managers are sent to internment camps.
    Around this time, many Protestant (“Kristen”) churches established Indonesian leaderships after Dutch churchmen and missionaries had been sent to Japanese internment camps. A side-effect of the Japanese occupation was to make Protestant churches more Indonesian.
    September 1943

    Revolts against Japanese put down in South and West Kalimantan.

    September 8 Orders are issued from Japanese military headquarters in Saigon to organize “Giyugun” (local armies) throughout southeast Asia.

    By the end of the war, around two million Indonesian had been recruited for service in the Giyugun or as Heiho auxiliaries. The Japanese felt that recruiting locals for defense was necessary, since Japanese units were increasingly being called up to fight the Americans elsewhere in the Pacific.
    October 1943

    October 3 Japanese organize “Giyugun” (local defense forces) for Sumatra and Java. The force for Java is called PETA (Pembela Tanah Air).

    October The MIAI umbrella organization is remade into Masyumi (Majlis Syurah Muslimin Indonesia) under Japanese oversight.

    Japanese begin to impose compulsory labor on villagers (romusha), many thousands die or disappear.

    Japanese impose rice requisitioning.

    Dutch marine brigades in exile begin training at Camp Lejeune, North Carolina, USA, with the ultimate goal of retaking the Netherlands Indies.

    Officers in PETA assemble for review, 1943.

    Many notable figures were signed up for PETA, including Soedirman and Suharto. Independence activists saw military training not so much as support for Japan as preparation for possible independence. By mid-1945, there were 120,000 armed fighters in PETA. This group later formed the core of the new Indonesian Armed Forces (TNI, later ABRI) after independence was proclaimed in 1945.
    November 1943

    November 3 Hatta gives a speech urging Indonesians to join the Giyugun (PETA).

    November 10 Sukarno, Hatta, and Kyai Bagus Hadikusumo are flown to Tokyo to be decorated by the Emperor of Japan.

    This was the first time that Sukarno had travelled abroad. Hatta, who had spent years in Europe, was less easily impressed.
    December 1943

    Barisan Hizbullah is organized by the Japanese; an armed force of Muslim youths associated with Masyumi.

    -_- 1944 -_-

    January Putera is replaced by the Jawa Hokokai/Java Service Association. Sukarno is chairman.

    April 19 Allies bomb Sabang in Aceh.

    April 22 Allies retake Hollandia (now Jayapura).

    May 9 Japanese commanders decide to abandon West Irian.

    May 17 Allied air raid on Surabaya.

    May 27 US force lands on Biak.

    June 4 Japanese begin counterattack on Biak.

    August Barisan Pelopor is organized as the youth wing of Jawa Hokokai (after independence, it would become known as Barisan Benteng).

    August 11 Allied air raid on Palembang.

    August 28-29 Ambon is mostly destroyed by Allied air raids.

    September 8 Japanese General Koiso promises that Indonesia (meaning all the territories of the Netherlands Indies) will be independent in the “very near future”.

    September 8 US forces finally clear the last Japanese forces from Biak.

    September 15 Allies land on Morotai.

    Japanese authorities begin organizing regional councils (with advisory powers only).

    October Australian forces begin bombing Balikpapan.

    Japanese organize a Central Advisory Council, similar to the Volksraad, with no legislative powers.

    November Harada is replaced as military governor by Yamamoto.

    Pakubuwono XII becomes Susuhunan of Surakarta.

    A small Netherlands East Indies administration was set up in the eastern areas that Allied forces passed through in 44-45 on their way to the Philippines.

    Towards the end of the war, the death toll among Dutch nationals and other Europeans in the Japanese internment camps was as high as 20%.

    10 Rupiah note issued by Japanese occupation forces, 1944.
    February 1945

    February 14 Peta soldiers at Blitar attack the Japanese armory there.
    March 1945

    March 1 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), a committee to prepare for Indonesian Independence, is announced by the Japanese. Members include Sukarno, Hatta, Wahid Hasyim, many others. Chairman is Dr. Radjiman Wediodiningrat.
    April 1945

    Japanese Vice-Admiral Maeda, head of Naval Intelligence in Indonesia, sponsors speaking tour by Sukarno and Hatta to Ujung Pandang.

    April 30 Australian and Dutch forces land at Tarakan.

    Sukarno poses with Japanese military and civilian officials in Ujung Pandang in April 1945.
    May 1945

    May 2 BPUPKI holds first session (until June 1). Supomo speaks to the committee against personal individualism, and in favor of national integration. Muhammad Yamin proposes that the new nation should include Sarawak, Sabah, Malaya, and Portuguese Timor, as well as all the territories of the Netherlands Indies. Yamin also suggests that the new Indonesia should ignore international law and declare all ocean areas between islands as territorial waters.

    May 3 Acehnese guerillas overrun Japanese outpost at Pandrah, killing all Japanese forces with no losses among their own.

    Controversy continues among BPUPKI attendees regarding the role of Islam in the new Indonesia.

    Yamin’s statements to the BPUPKI committee were strongly nationalistic, and made appeals to the history and territorial claims of Majapahit as well as general appeals to unite peoples of a common Malay race and culture.

    “Independence is almost here”: Japanese propaganda poster from 1945. Note the combination of Japanese soldier and the children with the Indonesian merah-putih flag.
    June 1945

    Maeda sponsors speaking tour by Sukarno and Hatta to Bali and Banjarmasin.

    June 1 Sukarno describes “Pancasila” doctrine in speech to the BPUPKI independence committee.

    June 10 Australian forces land in Brunei.

    Dutch forces land in North Sumatra.

    June 22 A special commission under Sukarno to resolve the disputes over the role of Islam in the new Republic settles on compromise language, later known as the Piagam Jakarta or “Jakarta Charter”. The compromise language simply states that Muslims are obligated to follow Islamic law.

    June 24 Allied forces land on Halmahera.

    The Pancasila is the national doctrine of Indonesia, the ideals that society should try to live up to. For more info, see the Notes on Pancasila.
    July 1945

    Japanese military meets in Singapore. Plans are made to hand over Indonesia to Indonesian independence leaders.

    July 1 Australian forces take Balikpapan.

    U.S. bombers hit Watampone, other sites in Kalimantan and Sulawesi.

    July 8 Sekolah Islam Tinggi is founded in Batavia (ancestor of the IAIN network of religious universities).

    July 10 Second BPUPKI session is held (until July 17) for discussions to draft a constitution for Indonesia. Hatta criticizes Yamin’s nationalistic statements, and suggests that West Irian might be left out of the new Indonesia. Sukarno supports Yamin. Haji Agus Salim suggests that people in the British and Portuguese possessions could vote on whether to join Indonesia. A majority of the committee votes that Indonesia should include Malaya, Sarawak, Sabah and Portuguese Timor, as well as all the Netherlands Indies.

    July 11 US air raid on Sabang.

  4. Perang Dunia II adalah perang terbesar dan paling parah dalam sejarah umat manusia. Perang ini dimulai pada tanggal 1 September 1939, saat Jerman menyerang Polandia. Dua hari kemudian, Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman. Sampai musim panas 1940, Jerman dan Italia, sekutunya, menguasai hampir seluruh Eropa. Pada 22 Juni 1941, perang semakin meluas saat Jerman mulai menginvasi Uni Soviet.

    Pada 7 Desember 1941, perang berubah menjadi konflik global saat Jepang menyerang Armada Amerika di Pearl Harbour, sehingga pertempuran meluas sampai Asia Pasifik. Saat Jerman dan Italia menyatakan perang terhadap Amerika pada 11 Desember 1941, perang yang terjadi sudah benar-benar menjadi perang dunia.

    Perang yang berlangsung selama enam tahun itu, berakhir setelah kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, dibom atom oleh Amerika Serikat. Akhir Perang Dunia II melahirkan dua negara adidaya, yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat.usamahrasyid.multiply.com

    Perang Dunia II mendapati perkembangan pesat pada tank. Jerman misalnya, menggunakan tank-tank ringan seperti Panzer I yang sebelumnya digunakan hanya untuk latihan. Tank-tank ringan dan kendaraan lapis baja lainnya menjadi unsur paling penting dalam blitzkrieg. Namun, tank ringan ini kalah menghadapi tank Inggris dan lebih lagi melawan tank T-34 Soviet. Dan pada akhir perang semua pihak telah secara drastis menambah ukuran meriam dan pelindung tank. Misalnya, Panzer I hanya memakai dua senapan mesin, dan Panzer IV, tank paling berat Jerman pada awal Perang Dunia II menggunakan meriam 75 mm kecepatan rendah, dan beratnya dibawah 20 ton. Pada akhir perang, tank sedang standar Jerman, Panther, menggunakan meriam 75 mm kecepatan tinggi, dan beratnya 45 ton.

    Tank berat Jerman, Tiger I.

    Perkembangan semasa perang lain adalah diperkenalkannya sistem suspensi yang jauh lebih baik. Mungkin hal ini terdengar tidak penting, tapi kualitas suspensi adalah penentu kinerja cross-country tank. Tank dengan suspensi yang buruk akan mengakibatkan getaran yang besar yang dirasakan pengendara, ini akan mengakibatkan sulitnya pengoperasian, mengurangi kecepatan, dan membuat penembakan sambil berjalan menajdi tidak mungkin. Sistem suspensi baru seperti sistem suspensi Christie atau suspensi torsion bar meningkatkan kinerja dan kecepatan secara drastis.

    Pada masa ini hampir semua tank sudah dilengkapi radio untuk mempermudah pengarahan dan komunikasi. Badan tank juga sudah dimodifikasi untuk dipakai untuk peran-peran lain, seperti penghancuran ranjau dan peran insinyur tempur. Semua negara utama peserta perang telah mengembangkan meriam gerak-sendiri: artileri, penghancur tank, dan meriam serbu. Meriam serbu Jerman dan Soviet, lebih murah dan ringan dari tank, menggunakan meriam-meriam yabng paling berat. Sementara penghancur tank milik Amerika Serikat dan Inggris sudah sulit dibedakan dari tank biasa.

    Meriam berputar, yang sebelumnya tidak tersedia pada semua tank, dianggap sebagai hal yang sangat penting. Meriam ini harus bisa digunakan melawan tank lain, jadi diusahakan sebesar dan sekuat mungkin, berarti tank cukup memiliki satu meriam yang harus sangat kuat. Akibatnya, desain tank dengan banyak meriam, seperti T-35 Soviet, ditinggalkan.

  5. The War in Brief

    At the end of World War I the victorious nations formed the League of Nations for the purpose of airing international disputes, and of mobilizing its members for a collective effort to keep the peace in the event of aggression by any nation against another or of a breach of the peace treaties. The United States, imbued with isolationism, did not become a member. The League failed in its first test. In 1931 the Japanese, using as an excuse the explosion of a small bomb under a section of track of the South Manchuria Railroad (over which they had virtual control), initiated military operations designed to conquer all of Manchuria. After receiving the report of its commission of inquiry, the League adopted a resolution in 1933 calling on the Japanese to withdraw. Thereupon, Japan resigned from the League. Meanwhile, Manchuria had been overrun and transformed into a Japanese puppet state under the name of Manchukuo. Beset by friction and dissension among its members, the League took no further action.

    In 1933 also, Adolf HITLER came to power as dictator of Germany and began to rearm the country in contravention of the provisions of the Treaty of Versailles. He denounced the provisions of that treaty that limited German armament and in 1935 reinstituted compulsory military service. That year the Italian dictator Benito MUSSOLINI began his long-contemplated invasion of Ethiopia, which he desired as an economic colony. The League voted minor sanctions against Italy, but these had slight practical effect. British and French efforts to effect a compromise settlement failed, and Ethiopia was completely occupied by the Italians in 1936.

    Alarmed by German rearmament, France sought an alliance with the USSR. Under the pretext that this endangered Germany, Hitler remilitarized the Rhineland in 1936. It was a dangerous venture, for Britain and France could have overwhelmed Germany, but, resolved to keep the peace, they took no action. Emboldened by this success, Hitler intensified his campaign for Lebensraum (space for living) for the German people. He forcibly annexed Austria in March 1938, and then, charging abuse of German minorities, threatened Czechoslovakia. In September, as Hitler increased his demands on the Czechs and war seemed imminent, the British and French arranged a conference with Hitler and Mussolini. At the Munich Conference they agreed to German occupation of the Sudetenland, Hitler’s asserted last claim, in the hope of maintaining peace. This hope was short lived, for in March 1939, Hitler took over the rest of Czechoslovakia and seized the former German port of Memel from Lithuania. There followed demands on Poland with regard to Danzig (Gdansk) and the Polish Corridor. The Poles remained adamant, and it became clear to Hitler that he could attain his objectives only by force. After surprising the world with the announcement of a nonaggression pact with his sworn foe, the Soviet Union, he sent his armies across the Polish border on Sept. 1, 1939. Britain and France, pledged to support Poland in the event of aggression, declared war on Germany two days later.

    As the Germans ravaged Poland, the Russians moved into the eastern part of the country and began the process that was to lead to the absorption in 1940 of Latvia, Estonia, and Lithuania. They also made demands on Finland. The recalcitrant Finns were subdued in the Winter War of 1939-1940, but only after dealing the Russians several humiliating military reverses.

    Meanwhile, Japan had undertaken military operations for the subjugation of China proper, and was making preparations for the expansion of its empire into Southeast Asia and the rich island groups of the Southwest Pacific. Mussolini watched the progress of his fellow dictator, Hitler, while preparing to join in the war at a propitious moment.

    Military Course of the War

    The bitter struggles and the enormous casualties suffered by Great Britain and France in World War I had engendered in their military leaders a defensive attitude with a reliance on such permanent fortifications as the Maginot Line and on blockade as means of subduing a resurgent Germany. Placing their faith in the impotent League of Nations, both countries neglected the development of armaments and allowed those they possessed and their armed forces to deteriorate. The Germans, on the other hand, smarting under their failure in World War I to capitalize on initial breakthroughs of the Allied lines because of lack of sustained power, developed fast, hard-hitting tank-airplane forces and the strategy of the blitzkrieg (lightning war). Since they had been disarmed by the Allies, they were unencumbered by obsolescent armaments and could equip their forces with the most modern weapons. As a result, initial German operations met with surprisingly rapid success.

    In less than a month, Poland had been conquered. There followed an inactive period (dubbed the Phony War) that lasted until April 1940. Then, despite Allied intervention, the Germans quickly seized Denmark and Norway. In May the blitzkrieg struck the western front in all its fury. Within six weeks the British had been driven from the Continent, and the French had been forced to surrender. The speed of the advance also surprised Hitler, who was not ready to follow his success with an invasion of the British Isles. The Luftwaffe, called upon to soften the islands and gain air superiority while preparations were made for invasion, received a stunning defeat at the hands of the small but highly competent and brave Royal Air Force. Frustrated in the west, Hitler turned against the USSR in June 1941. In a series of brilliant military maneuvers in which several million Russians were captured, he reached the gates of Moscow in December, only to be stopped by bad weather and Russian reinforcements rushed to defend the city.

    Meanwhile, Mussolini sought to realize his dream of an Italian Mediterranean empire. In the late summer and fall of 1940 he launched an offensive from Libya against the British in Egypt and an invasion of Greece from Albania (which he had occupied in 1939). Both enterprises eventually proved disastrous for the Italians, and German forces were sent to their rescue. Greece fell to the Germans, but they met stiff British opposition in Africa. In December 1941, Japan thought the time ripe to extend her empire into a Greater East Asia Coprosperity Sphere which it did very rapidly against meager opposition. It was the Japanese plan to fortify this area so strongly as to withstand American counterattacks and eventually gain a negotiated peace based on the status quo. The attacks on Pearl Harbor and the Philippines brought the United States into the war and greatly altered the balance of power in favor of the Allies.

    The year 1942 saw the turn of the tide for the Allies. In June, Japanese naval airpower was decimated by the United States Navy in the Battle of Midway. Having been repulsed at Moscow, Hitler turned to the Caucasus, but the Germans were severely defeated and turned back at Stalingrad (now Volgograd) by the Russians in the closing months of the year. At the same time the British dealt the Germans and Italians a defeat at El Alamein that sent them reeling in retreat westward along the African Mediterranean coast. In Tunisia they encountered newly landed British and American forces and were expelled from Africa in May 1943.

    The Allies now had the initiative and, with the vast production facilities of the United States in full operation, took the offensive on all fronts. Resistance was bitter, and progress slow though inexorable. From bases in Africa the Allies invaded and captured Sicily in July-August 1943. In September, Italy was forced out of the war. British (The term “British, as applied to military forces, includes where appropriate other Commonwealth forces–Canadian, Australian, New Zealand, South African, and Indian–which performed outstandingly during the war.), American, and French forces began a methodical and relentless advance up the Italian Peninsula against the Germans, who had been rushed in to defend it. After Stalingrad the Russians, in a series of alternating offensives, gradually forced the Germans back with heavy losses, until by late April 1945 they were approaching Berlin.

    Following a massive buildup of troops, air and naval power, and equipment in the British Isles, American, British, and French troops landed on the Normandy coast of France in June 1944 and pressed the Germans back to the West Wall. There, in December, the Germans launched a final counterattack, which failed. Aided by troops landed in southern France from Italy, the Allies forced the Germans back across the Rhine River and deep into Germany. Assailed on all sides, and their major cities devastated by aerial bombardment, the Germans surrendered on May 7, 1945.

    Because of a lack of resources, Allied strategy had envisioned the prior defeat of Germany while remaining on the defensive against the Japanese. Only after victory in Europe would the full Allied power be applied to Japan. American industrial production increased so rapidly, however, that limited offensives could be initiated against the Japanese as early as August 1942. Thereafter, a persistent two-pronged offensive across the Central Pacific and along the Solomon Islands-New Guinea axis steadily pushed the Japanese back. By the fall of 1944, American forces were landing in the Philippines, and they regained the islands the next spring. Then the island of Okinawa, at the threshold of Japan proper, was captured, and preparations were begun for the invasion of the home islands. Meanwhile, the Japanese position in Asia progressively deteriorated. By the summer of 1945, with its navy and air force virtually destroyed, its cities at the mercy of American aircraft, and cut off from sources of supply of much-needed raw materials, the Japanese foresaw doom. The dropping of two ATOMIC BOMBS on Japanese cities and the Soviet invasion of Manchuria hastened their decision to capitulate, which they did on August 14.

    Diplomatic History of the War and Postwar Period

    The League of Nations having failed through inertia and internal discord to prevent war, the major powers aligned themselves in rival groups. In September 1940, Germany, Italy, and Japan signed the Tripartite Pact in Berlin, formalizing the Axis coalition. Hitler’s invasion forced the Russians into the Franco-British camp. As the war progressed, the United States departed from its policy of strict neutrality and rendered greater and greater aid short of war to the beleaguered Allies. Blocked in negotiations with the United States from furthering its aims of expansion, Japan attacked the American base at Pearl Harbor in December 1941 and forced the United States into the war.

    Meanwhile, in August 1941, Franklin D. ROOSEVELT and Winston CHURCHILL met on shipboard off Newfoundland and subsequently issued the Atlantic Charter, in which they subscribed to certain general principles for achieving peace. The charter forbade territorial changes contrary to the wishes of the inhabitants; recognized the right of people to choose their own forms of government; promised greater freedom of trade and of the seas; and supported international cooperation to improve conditions of labor and social security. Armaments were to be reduced, and a permanent system of general security was to be created. The aggressor nations were to be disarmed. On Jan. 1, 1942, the United States, Great Britain, France, the USSR, China, and 21 other countries signed in Washington the Declaration by United Nations, pledging mutual assistance and promising not to enter into separate armistice or peace negotiations with the Axis powers. The member nations also subscribed to the Atlantic Charter’s purposes and principles.

    At the Casablanca Conference in January 1943, Roosevelt and Churchill–most probably to allay Joseph STALIN’s suspicions of the loyalty of his allies–proclaimed a policy of unconditional surrender for Germany, Italy, and Japan as the only means of maintaining the peace. This policy may have prolonged the war, but it solidified the Allied nations and may have forestalled Soviet efforts toward a separate peace with Germany in 1943.

    At the Teheran Conference in late 1943, Roosevelt, Churchill, and Stalin agreed on broad principles of operation for an international organization to mediate differences between nations and maintain peace. At Dumbarton Oaks in Washington in the fall of 1944 details were worked out, and it was decided to call the new organization the United Nations. The San Francisco Conference convened on April 25, 1945, to organize the United Nations; its charter was adopted unanimously on June 26.

    War’s end found the United States and the USSR the two greatest powers in the world. By the time of the signing of the Axis satellite treaties early in 1947, the two countries were drawing apart. Friction over the treaties with Austria, Germany, and Japan and Soviet aggressive designs in eastern Europe brought increasing tension, and by the end of 1948 their relationship could be considered one of cold war. In 1950 armed conflict arose in Korea between Soviet-backed Communist forces and United Nations forces led by the United States. The cold war between the East and West continued thereafter, with the Communists striving for world domination through subversion and infiltration, and the West seeking to frustrate their designs.

    Vincent J. Esposito
    Colonel, United States Army
    Head, Department of Military Art, United States Military Academy

  6. Dampak Negatif dan Positif penggunaan Internet

    Internet adalah jaringan komputer yang terhubung secara internasional dan tersebar di seluruh dunia. Jaringan ini meliputi jutaan pesawat komputer yang terhubung satu dengan yang lainnya dengan memanfaatkan jaringan telepon ( baik kabel maupun gelombang elektromagnetik). Jaringan jutaan komputer ini memungkinkan berbagai aplikasi dilaksanakan antar komputer dalam jaringan internet dengan dukungan software dan hardware yang dibutuhkan. Untuk bergabung dalam jaringan ini, satu pihak ( dalam hal ini provider ) harus memiliki program aplikasi serta bank data yang menyediakan informasi dan data yang dapat di akses oleh pihak lain yang tergabung dalam internet. Pihak yang telah tergabung dalam jaringan ini akan memiliki alamat tersendiri ( bagaikan nomor telepon ) yang dapat dihubungi melalui jaringan internet. Provider inilah yang menjadi server bagi pihak-pihak yang memiliki personal komputer ( PC ) untuk menjadi pelanggan ataupun untuk mengakses internet.
    Sejalan dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi internet juga semakin maju. ‘Internet’ adalah jaringan komputer yang dapat menghubungkan suatu komputer atau jaringan komputer dengan jaringan komputer lain, sehingga dapat berkomunikasi atau berbagi data tanpa melihat jenis komputer itu sendiri. Pada tahun 1999, jumlah komputer yang telah dihubungkan dengan internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 40 juta dan jumlah ini terus bertambah setiap hari. Saat ini jumlah situs web mencapai jutaan, bahkan mungkin trilyunan, isinya memuat bermacam-macam topik. Tentu saja, situs-situs itu menjadi sumber informasi baik yang positif ataupun negatif. Informasi dikatakan positif apabila bermanfaat untuk penelitiaan. Di bawah ini akan dijelaskan dampak-dampak positif maupun negatif dari penggunaan internet.
    Dampak Positif:
    1. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
    2. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
    3. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
    4. Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga manusia tahu apa saja yang terjadi.
    5. Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain
    6. Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.
    Dampak Negatif
    1. Pornografi
    Anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.Untuk mengantisipasi hal ini, para produsen ‘browser’ melengkapi program mereka dengan kemampuan untuk memilih jenis home-page yang dapat di-akses.Di internet terdapat gambar-gambar pornografi dan kekerasan yang bisa mengakibatkan dorongan kepada seseorang untuk bertindak kriminal.
    2. Violence and Gore
    Kekejaman dan kesadisan juga banyak ditampilkan. Karena segi bisnis dan isi pada dunia internet tidak terbatas, maka para pemilik situs menggunakan segala macam cara agar dapat ‘menjual’ situs mereka. Salah satunya dengan menampilkan hal-hal yang bersifat tabu.
    3. Penipuan
    Hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu. Cara yang terbaik adalah tidak mengindahkan hal ini atau mengkonfirmasi informasi yang Anda dapatkan pada penyedia informasi tersebut.
    4. Carding
    Karena sifatnya yang ‘real time’ (langsung), cara belanja dengan menggunakan Kartu kredit adalah carayang paling banyak digunakan dalam dunia internet. Para penjahat internet pun paling banyak melakukan kejahatan dalam bidang ini. Dengan sifat yang terbuka, para penjahat mampu mendeteksi adanya transaksi (yang menggunakan Kartu Kredit) on-line dan mencatat kode Kartu yang digunakan. Untuk selanjutnya mereka menggunakan data yang mereka dapatkan untuk kepentingan kejahatan mereka.
    5. Perjudian
    Dampak lainnya adalah meluasnya perjudian. Dengan jaringan yang tersedia, para penjudi tidak perlu pergi ke tempat khusus untuk memenuhi keinginannya. Anda hanya perlu menghindari situs seperti ini, karena umumnya situs perjudian tidak agresif dan memerlukan banyak persetujuan dari pengunjungnya.
    1. Mengurangi sifat sosial manusia karena cenderung lebih suka berhubungan lewat internet daripada bertemu secara langsung (face to face).
    2. Dari sifat sosial yang berubah dapat mengakibatkan perubahan pola masyarakat dalam berinteraksi.
    3. Kejahatan seperti menipu dan mencuri dapat dilakukan di internet (kejahatan juga ikut berkembang).
    4. Bisa membuat seseorang kecanduan, terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut.

    http://ristiayu.blogsome.com/2007/06/02/dampak-positif-dan-negatif-akibat-perkembangan-teknologi-internet/

  7. coba indonesia seperti jerman atau jepang walaupun kalah tapi setidaknya pernah punya taring dan cakar. jangan cuma kroco korban perang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: