Posted by: isronax | September 8, 2009

Membangun kreatifitas anak

Kreatif Mengembangkan Kreatifitas Anak

Lalu, bagaimana kita dapat mengembangkan kreatifitas mereka?

- Cintai mereka setulus hati

Dengan mencintai mereka setulus hati, kita tentu mau menerima mereka apa adanya. Kita pun akan menghargai keunikan mereka tanpa harus memaksanya menjadi orang-orang yang kita inginkan.

Kalau mereka pandai menggambar, berikan acungan jempol sebagai tanda bangga. Kalau memang kurang pandai bernyanyi, jangan paksa ia menyanyi dengan bagus agar bisa masuk TV.

- Beri kesempatan mengekspresikan ide-idenya yang cemerlang

Membuat roda mobil bersegi empat atau menggambar air laut berwarna jingga, semuanya bisa terjadi. Maka, apapun karya yang dihasilkan dari idenya, biarkan anak Anda merasa bebas dan aman mengekspresikan ide-idenya yang unik dan orisinil itu.

Secara psikologis, memberikan tempat untuk mengekspresikan ide-idenya itu akan merangsang potensi kreatif anak untuk berkembang secara optimal. Jangan terlalu banyak dilarang atau disalahkan. Mereka hanya butuh batas-batas yang jelas dan tegas dari Anda, namun hal itu harus tetap fleksibel dan tidak kaku.

- Ajak mereka memperkaya wawasan di bidang yang diminatinya itu.

Menonton konser musik, menonton pergelaran tari, melihat pameran lukisan, pertandingan olahraga, dan sebagainya, yang selama ini menarik minatnya. Dengan begitu, si anak akan punya banyak pengalaman, sehingga gudang gagasan di dalam otaknya pun akan lebih penuh untuk mengembangkan kreatifitasnya sendiri.

Posted by: isronax | March 23, 2009

Perpustakaan paling Tua!

Perpustakaan paling Tua!

Judul ini hanya sekedar memberikan gambaran bahwa perpustakaan yang mau saya ceritakan bisa jadi perpustakaan yang paling tua, walau tahun didirikan tidak pernah tau sejak kapan. Sementara biarkan aja dulku deh kapan dan berapa umurnya.

Beberapa hari ini saya dapat kesempatan untuk “memporak porandakan” sebuah perpustakaan yang berada di lingkungan Keduataan Besar RI, perpustakaan yang konon di buat sebagai bagian dari sebuah pusat informasi (PUSKIN). Lama memang tidak pernah terjamah dan langka sekali orang untuk iseng berkunjung ke tempat ini. Saking lamanya buku-buku menjadi sangat berdebu, maklum daerah yang selalu berdebu terus, semakin dibersihkan semakin kelihatan debunya. Ntah, karena debunya yang menempel di buku-buku tersebut sehingga semakin jarang orang memperhatikan keberadaan perpustakaan ini. Berdebu sebenarnya bukan karena tempatnya ngak pernah dsedot dan disbersihkan menggunakan vacum cleaner cuma emang debu yang dateng konstan banget nempel hampir disemua bagian atas buku yang ada. weleh..pasti deh yang baca bakal bingung gimana maksudnya, apa hubungannya debu dengan keberadaan sebuah perpustakaan?

ntar dilanjut…

Posted by: isronax | March 5, 2009

Presentasi Globalisasi

Ini materi pembelajaran yang saya buat untuk materi Globalisasi, kelihatannya topik ini banyak sekali yg mnecari makanya saya coba upload aja deh, siapa tahu bisa membantu. Silahkan di download

globalisasi1

Posted by: isronax | March 5, 2009

Globalisasi di bidang kebudayaan

Globalisasi kebudayaan

Sub-kebudayaan Punk, adalah contoh sebuah kebudayaan yang berkembang secara global

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Read More…

Ruth Clark (Clark, 2002) menuliskan enam prinsip yang harus diperhatikan berkaitan dengan elemen media yang digunakan supaya sebuah program e-learning berlangsung efektif. Keenam prinsip menyangkut elemen media dalam e-learning yang disebutkan Clark berikut merupakan dasar-dasar bagaimana mengembangkan media dalam e-learning. Pengembangan media yang dimaksud di sini menyangkut kombinasi teks, grafik, dan suara untuk menyampaikan materi pembelajaran. Keenam prinsip tersebut adalah:

1. Prinsip Multimedia: menambahkan grafik ke dalam teks meningkatkan kegiatan belajar. Yang dimaksud dengan grafik di sini adalah gambar diam (garis, sketsa, diagram, foto) dan gambar bergerak (animasi dan video). Grafik yang ditambahkan ke dalam teks sebaiknya yang selaras dengan pesan yang disampaikan dalam teks. Grafik yang ditambahkan untuk hiburan (entertainment) dan kesan dramatis tidak saja tidak meningkatkan kegiatan belajar, tetapi justru dapat menurunkan kegiatan belajar.

2. Prinsip Contiguity (kedekatan): menempatkan teks di dekat grafik meningkatkan kegiatan belajar. Contiguity merujuk pada susunan teks dan grafik pada layar. Seringkali dalam suatu materi e-learning, grafik diletakkan pada bagian atas atau bawah teks sehingga teks dan grafik tidak bisa dilihat dalam satu layar, atau teks dan grafik tidak dapat dilihat secara bersamaan. Ini merupakan pelanggaran yang umum terjadi terhadap prinsip contiguity, yang menyatakan sebaiknya grafik dan teks yang bersesuaian diletakkan berdekatan.

3. Prinsip Modality: menjelaskan grafik dengan suara meningkatkan kegiatan belajar. Prinsip ini terutama berlaku untuk animasi atau visualisasi kompleks dalam suatu topik yang relatif kompleks dan belum dikenal oleh pembelajar.

4. Prinsip Redundancy (kelebihan): menjelaskan grafik dengan suara dan teks yang berlebihan dapat merusak kegiatan belajar. Banyak program e-learning yang menyajikan kata-kata dalam teks dan suara yang membaca teks. Banyak hasil riset yang mengindikasikan bahwa kegiatan belajar terganggu ketika sebuah grafik dijelaskan melalui kombinasi teks dan narasi yang membaca teks.

5. Prinsip coherence (kesesuaian): menggunakan visualisasi, teks, dan suara yang tidak berhubungan (sembarangan) dapat merusak kegiatan belajar. Dalam banyak website e-learning sering ditemukan penambahan-penambahan yang tidak perlu, misalnya penambahan games, musik latar, dan ikon-ikon tokoh kartun terkenal. Penambahan-penambahan ini, selain tidak meningkatkan kegiatan belajar, juga dapat merusak kegiatan belajar itu sendiri.

6. Prinsip personalisasi: menggunakan bentuk percakapan dan gaya-gaya pedagogis dapat meningkatkan kegiatan belajar. Sejumlah penelitian yang dirangkum oleh Byron Reeves dan Clifford Nass dalam bukunya, The Media Equation, menunjukkan bahwa seseorang memberikan respon terhadap komputer seperti ketika ia memberi respon kepada orang lain.

Older Posts »

Categories